Kam. Nov 30th, 2023

Harian Deteksi– Dinamika perang Rusia-Ukraina terus menunjukan perkembangan terbaru. Keduanya masih terus bertukar serangan.

Adapun di tengah gempuran masing-masing pihak, jatuhnya korban sipil tak terhindarkan.

Berikut perkembangannya sebagaimana dirangkum CNBC Indonesia, Jumat (6/10/2023)

1. Putin Ngamuk, Hantam Kafe Ukraina

Rudal Rusia menghantam sebuah kafe dan toko kelontong, di sebuah desa di timur laut Ukraina, Hroza, Kamis (5/10/2023). Akibatnya 51 orang, yang rata-rata warga sipil, tewas.

Insiden terjadi kala warga usai menghadiri pemakaman salah satu pejuang Ukraina. Pria tersebut diketahui gugur dalam perang dan dibawa kembali jenazahnya oleh keluarga untuk dimakamkan.

Keluarga sang tentara, ibu, saudara laki-lakinya dan ipar termasuk korban temas. Salah satu korban sivil lain pun adalah anak laki-laki berumur enam tahun.

Menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, insiden ini Kharkiv itu jelas disengaja. “Bukan serangan salah sasaran,” tegasnya dimuat AFP.

Menurutnya Rusia tahu wilayah itu merupakan area warga sipil. Ini menjadi serangan yang paling mematikan di wilayah tersebut sejak perang dilancarkan Rusia, 19 bulan.

“Serangan ini juga tampaknya menjadi salah satu korban tewas warga sipil terbesar dalam setiap serangan yang dilakukan Rusia,” tambah seorang pejabat regional kepada lembaga penyiaran publik Suspilne.

“Ini adalah tragedi yang mengerikan,” kata Menteri Dalam Negeri Ukraina Ihop Klymenko kepada televisi Ukraina.

Mengutip informasi lain, serangan ini dilakukan Rusia dengan rudal balistik Iskander. Serangan dilakukan pada saat makan siang, untuk memastikan jumlah korban yang maksimal.

“Tidak ada sasaran militer di sana. Ini adalah kejahatan keji yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti warga Ukraina,” ujar Menteri Pertahanan Rustem Umerov.

2. Rusia Mau Rilis Rudal Nuklir Baru

Presiden Rusia Vladimir Putin muncul ke publik, Kamis (5/10/2023). Dalam kehadiran terbarunya itu, ia dengan tegas menyampaikan kemungkinan bahwa Rusia dapat melanjutkan uji coba senjata nuklir.

Ini menjadi untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga dekade. Ia pun berujar mungkin, negaranya akan menarik diri dari ratifikasi perjanjian larangan uji coba nuklir yang penting.

“Saya mendengar seruan untuk mulai menguji senjata nuklir, untuk kembali melakukan pengujian,” kata Putin, mengacu pada saran dari para ilmuwannya, pada pertemuan Klub Diskusi Valdai di resor Sochi di Laut Hitam, dikutip Reuters, Jumat (6/10/2023).

“Saya belum siap untuk mengatakan apakah kita benar-benar perlu melakukan uji coba atau tidak, namun secara teori mungkin kita akan berperilaku sama seperti Amerika Serikat, (AS),” ujarnya merujuk AS yang tidak menandatangi Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif.

“Secara teori, ratifikasi ini bisa saja dicabut. Itu saja sudah cukup,” tegasnya,

Ia pun membeberkan bahwa Moskow juga telah berhasil menguji coba rudal jelajah bertenaga nuklir dan berkemampuan nuklir terbarunya Burevestnik. Ia mengklaim kemampuannya bakal “tak tertandingi”.

Menurutnya, setiap serangan ke Rusia akan memicu respons sepersekian detik dengan ratusan rudal nuklir. Sehingga, tambahnya, tidak ada musuh yang dapat bertahan.

“Kami sekarang hampir menyelesaikan pekerjaan pada jenis persenjataan strategis modern yang telah saya bicarakan dan saya umumkan beberapa tahun lalu,” kata Putin pada kegiatan yang sama dimuat BBC International.

“Uji coba terakhir yang berhasil telah dilakukan terhadap Burevestnik, rudal jelajah bertenaga nuklir dengan jangkauan global,” tambahnya.

3. Jerman Pasok Rudal Patriot ke Ukraina

Jerman telah menjanjikan satu lagi sistem pertahanan udara Patriot kepada Ukraina untuk memitigasi serangan terhadap infrastruktur menjelang musim dingin. Ini dikatakan Kanselir Olaf Scholz setelah pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Spanyol.

“Memperkuat pertahanan udara Ukraina dengan sistem Patriot adalah apa yang dibutuhkan saat ini, memastikan pertahanan udara dengan sistem yang sangat efisien ini,” kata Scholz kepada wartawan di kota Granada, Spanyol selatan, tempat para pemimpin Eropa dan presiden Ukraina bertemu pada hari Kamis.

”Kami telah menyediakan sistem pertahanan udara Patriot kepada Ukraina di masa lalu, dan saya telah mengatakan kepada presiden Ukraina di sini bahwa kami akan menyediakan sistem lain kepada Ukraina untuk bulan-bulan musim dingin,” kata Scholz.

“Kita harus memperkirakan bahwa Rusia akan mencoba mengancam infrastruktur dan kota-kota Ukraina lagi di musim dingin dengan serangan rudal, serangan pesawat tak berawak, dan segala kemungkinannya.”

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Annalena Baerbock mengatakan Jerman akan ‘melakukan segalanya’ untuk memastikan Ukraina dapat melindungi diri dari ‘teror rudal Rusia.’

“Lebih dari 50 orang tewas di Hroza,” kata Baerbock di X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter. “Selama bom menghantam supermarket dan kafe, kami melakukan segalanya untuk memastikan bahwa Ukraina dapat melindungi diri dari teror rudal Putin.

4. Ukraina Hancurkan Drone Rusia

Pertahanan udara Ukraina menembak jatuh 25 drone yang diluncurkan oleh Rusia di seluruh negeri semalam. Hal ini disampaikan Komando Angkatan Udara Ukraina pada Jumat.

Dalam pernyataan di Telegram, angkatan udara mengatakan Rusia meluncurkan 33 drone tipe Shahed dari wilayah pendudukan Krimea menuju wilayah selatan, timur dan tengah Ukraina.

Pertahanan udara mencegat drone di wilayah Odesa, Mykolaiv, Kharkiv, Dnipro, Cherkasy dan Zhytomyr, katanya.

Di Odesa, drone Rusia merusak infrastruktur pelabuhan dan silo biji-bijian di Sungai Danube, kata para pejabat Ukraina sebelumnya.

5. Putin Buka Suara soal Konflik di Ukraina

Presiden Rusia Vladimir Putin, pada hari Kamis mengklaim bahwa perang tersebut bukanlah konflik perebutan wilayah melainkan tentang “prinsip-prinsip.”

“Krisis Ukraina bukanlah konflik teritorial, dan saya ingin memperjelasnya. Rusia adalah negara terluas di dunia, dan kami tidak tertarik untuk menaklukkan wilayah tambahan,” kata Putin di Forum Valdai di Sochi.

Puluhan ribu orang tewas, seluruh kota dan desa musnah, dan infrastruktur senilai miliaran dolar hancur sejak serangan Putin ke Ukraina dimulai pada 24 Februari tahun lalu. Sementara itu, Presiden Rusia telah berupaya untuk mencaplok empat wilayah Ukraina.

Namun pada hari Kamis, Putin mengklaim bahwa Rusia tidak “berusaha membangun keseimbangan geopolitik regional” di Ukraina. Sebaliknya, ia mengatakan permasalahannya adalah “tentang prinsip-prinsip yang mendasari tatanan internasional baru.”

“Penolakan terhadap prinsip-prinsip ini, salah satunya adalah keseimbangan di dunia di mana tidak ada seorang pun yang secara sepihak dapat memaksa atau memaksa orang lain untuk hidup atau berperilaku sesuai keinginan hegemon, adalah penyebab konflik,” klaim Putin, tampaknya merujuk pada negara-negara Barat.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *