Kam. Nov 30th, 2023
Rumah

Harian deteksi– Rumah diserang rudal Israel, 4 keluarga kini tidur di luar rumah mereka yang hancur.

Kamal Nabhan berteriak ketika dia menyerahkan telepon ke tangan sepupunya. Dia tidak percaya apa yang dikatakan oleh penelepon anonim itu.

Sepupu Kamal, Ataf, mengambil ponsel tersebut dan berbicara dengan orang di seberang telepon.

“Dia bilang dia dari intelijen Israel, dan saya diberi waktu lima menit untuk meninggalkan rumah,” kata Ataf.

Ataf berupaya memberi tahu orang Israel di ujung telpon bahwa dia pasti salah karena bangunan itu “penuh” dengan kaum difabel.

Saat itu, para pria di kamp pengungsi Jabalia baru saja bersiap-siap untuk salat Ashar. Namun, mereka langsung mengurungkan niat tersebut dan bergegas keluar.

Itu adalah hari kelima serangan udara Israel paling sengit di Gaza dalam sembilan bulan terakhir.

Serangan yang disebut pembunuhan yang ditargetkan itu menewaskan sedikitnya enam tokoh terkemuka dari Jihad Islam, kelompok milisi terkuat kedua di wilayah Palestina.

Serangan itu juga menewaskan 10 warga sipil pada hari pertama – termasuk para perempuan dan anak yang menjadi sasaran saat mereka tidur.

Kelompok Jihad Islam kemudian membalas dengan meluncurkan gelombang serangan roket ke kota-kota Israel, memaksa puluhan ribu orang memenuhi tempat perlindungan.

Israel mengatakan mereka mengambil tindakan setelah Jihad Islam menembakkan roket berulang kali.

Di sisi lain, Jihad Islam berdalih bahwa serangan dilakukan karena polisi merazia warga Palestina di Masjid al-Aqsa di Yerusalem timur—wilayah yang dikuasai Israel—serta kematian pengunjuk rasa, Khader Adnan, di penjara belum lama ini.

Pertempuran pekan lalu menewaskan 33 warga Palestina di Gaza dan dua orang di Israel – seorang Israel dan seorang Palestina. Lebih dari 1.200 warga Palestina mengungsi, menurut PBB.

Peringatan yang disampaikan ke Kamal Nabhan dan sepupunya, Ataf, bukan hoaks. Di bangunan milik keluarga Nabhan, Israel melesatkan satu rudal yang menghancurkan rumah tersebut.

Ataf Nabhan diberi tahu bahwa dia memiliki waktu lima menit untuk meninggalkan rumahnya – sebelum rudal menghancurkannya.

Tepat sebelum kesepakatan gencatan senjata disepakati pada Sabtu (13/05) malam, Israel menghancurkan beberapa blok permukiman lainnya dengan cara yang sama.

Mereka memberikan peringatan evakuasi kepada penduduk sebelum mengebom bangunan.

Serangan yang meruntuhkan seluruh blok apartemen ini adalah taktik usang yang digunakan Israel di Gaza.

Israel mengatakan bangunan yang disasarnya digunakan Jihad Islam sebagai “pusat komando dan kontrol” untuk mengarahkan peluncuran roket.

Israel juga berdalih bahwa panggilan telpon dimaksudkan untuk memperingatkan dan mencegah warga sipil, yang tidak terlibat, menjadi korban.

Sumber-sumber lokal meyakini seorang anggota milisi tinggal di bangunan itu, tetapi bangunan itu bukan pusat komando.

Kelompok hak asasi manusia mengutuk serangan yang menghancurkan seluruh blok permukiman, menyatakan aksi itu melanggar hukum internasional.

Penduduk lain yang menerima panggilan peringatan, dan direkam dalam video, memohon kepada pasukan Israel untuk membatasi serangan apa pun “ke apartemen orang-orang yang tidak bersalah”.

Bangunan di Jabalia runtuh, hanya tersisa fondasinya saja. Seluruh tangga yang digunakan untuk menyelamatkan diri juga runtuh, bertumpuk dengan dinding yang hancur.

Atap yang tersisa jaraknya hanya beberapa meter di atas tanah, memberikan satu-satunya tempat berteduh bagi bekas penghuninya.

Beberapa penghuni berusaha mengeluarkan semua orang – hampir 50 orang dari delapan keluarga.

Ada lima orang difabel di bangunan itu, salah satunya mengalami distrofi otot, kata kelompok penolong. Beberapa menggunakan kursi roda dan tempat tidur yang dimodifikasi khusus. Obat-obatan hancur dalam serangan udara, tambah mereka.

Jamal al-Rozzi, direktur eksekutif Masyarakat untuk Rehabilitasi yang berbasis di Gaza, datang untuk membantu para warga. Dia mengatakan kelompoknya akan memberikan bantuan termasuk makanan dan peralatan medis.

“Saya marah dan sakit hati karena ini tidak boleh terjadi, setidaknya tidak untuk warga sipil, terutama orang-orang difabel,” katanya.

Kerabat Kamal Nabhan lainnya juga berlindung di antara puing-puing.

Rahma Nabhan dan suaminya, Yasser, sedang duduk di bawah atap yang retak, bergantian menenangkan bayi perempuan mereka, Jori, yang sedang menangis.

Ledakan itu menghancurkan rumah keluarga Nabhan.

“Ipar saya difabel – mereka bahkan tidak bisa menutupi kepala mereka [ketika mereka diselamatkan], kursi roda mereka terkubur di bawah reruntuhan rumah,” kata Rahma.

“Semua orang melihat para difabel melarikan diri. Mereka bertanya: ‘Mengapa rumah itu harus dihancurkan? Apakah para difabel ini menembakkan roket?’ Kami tidak ada hubungannya dengan semua ini,” katanya.

Rahma mengantar saya mengitari sisa-sisa reruntuhan sambil menggendong Jori.

Tempat tinggalnya ada di lantai paling atas. Sekarang hanya ada papan dari kardus yang dipasang warga di atas sisa-sisa beton, yang dituliskan nama mereka masing-masing.

“Kami tidak ke mana-mana, kami akan tinggal di bawah sinar matahari, tidur di bawah sinar matahari, kami tidak akan meninggalkan rumah,” kata Rahma.

“Kami meminta organisasi internasional dan [Presiden Palestina Mahmoud Abbas] untuk menolong kami dan membangun kembali rumah ini karena kami tidak tahu harus pergi ke mana,” katanya.

Gencatan senjata yang dicapai pada Sabtu malam, yang dimediasi oleh Mesir, sebagian besar telah disepakati.

Namun, keadaan tetap sangat tegang. Setelah berbulan-bulan kekerasan meningkat di Tepi Barat yang diduduki Israel, kekerasan kini meluas ke Gaza pada tiga kesempatan besar, sejak perang habis-habisan antara Israel dan Hamas pada Mei 2021.

Serangan minggu lalu telah membuat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan tindakan yang berani secara politik.

Pemerintahannya dapat dengan mudah memicu konfrontasi yang jauh lebih besar – bahkan mereka masih bisa melakukannya meskipun ada gencatan senjata.

Namun, dia menggunakan pertempuran untuk memoles reputasinya dalam hal keamanan, dalam menghadapi kerusuhan domestik yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan meningkatnya tekanan dari ekstremis agama-ultranasionalis dalam koalisinya.

Terlepas dari kerugiannya, Jihad Islam telah menggunakan eskalasi ini untuk mempromosikan diri mereka sebagai wajah perlawanan bersenjata saat ini terhadap Israel.

Sementara Hamas – kelompok milisi yang dominan di Gaza – tetap berada di ‘posisi kedua’ dalam hal melancarkan aksi militer.

Kelompok itu secara terbuka mendukung tembakan roket sebagai bagian dari “persatuan” faksi-faksi Palestina, tetapi secara efektif menahan diri, sehingga membatasi pertempuran.

Mereka juga harus menjaga layanan-layanan tetap berjalan untuk penduduk Gaza di bawah blokade Israel-Mesir yang melumpuhkan.

Perang yang lebih besar dapat membuat opini populer malah berubah menjadi menentangnya.

Sejak 2021, pemerintah Israel telah memberikan izin kepada ribuan pekerja untuk menyeberang ke Israel, meningkatkan ekonomi Gaza dan memperkuat pendapatan pajak untuk Hamas.

Namun, kelompok tersebut telah memperingatkan bahwa pihaknya menentang rencana pawai bendera ultranasionalis Israel melalui wilayah Muslim di Yerusalem timur pada Kamis.

Hal itu membuat ketegangan terus memanas.

Israel dan negara-negara Barat memasukkan Hamas dan Jihad Islam dalam daftar organisasi teroris.

Namun, banyak warga Palestina di sini merasa diabaikan oleh komunitas internasional yang masih berbicara tentang masa depan politik untuk kawasan itu – solusi dua negara – yang ditolak mentah-mentah oleh pemerintah nasionalis Israel dan kelompok bersenjata Palestina.

Di rumah Nabhan, para tetangga dan badan amal yang berbasis di Gaza berkumpul sebagai tanda solidaritas.

Itu terjadi di hari yang sama dengan peringatan 75 tahun Nakba, ketika 700.000 orang Palestina melarikan diri atau dipaksa meninggalkan rumah mereka dalam konflik seputar pembentukan Israel.

Para warga yang kehilangan tempat tinggalnya mengangkat tanda bertuliskan “Lindungi kami” dan “Kami meminta bantuan”.

Ataf Nabhan, yang menerima panggilan peringatan dari petugas intelijen Israel, menunjuk ke puing-puing dan memberi tahu saya permohonannya sederhana.

“Keluarga ini membutuhkan tempat berlindung,” katanya. “Kami hanya meminta organisasi hak asasi manusia – menjaga keluarga ini.”

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *